Jumat, 19 Oktober 2012

Teori Pembelajaran



TEORI PEMBELAJARAN MENURUT ALIRAN PSIKOLOGI GESTALT

Teori belajar Gestalt (Gestalt Theory) ini lahir di Jerman tahun 1912 dipelopori dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880 – 1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis. Sumbangannya ini diikuti tokoh-tokoh lainnya, seperti Wolfgang Kohler (1887 – 1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse yaitu mengenai mentalitas simpanse (ape) di pulau Canary. Kurt Koffka (1886 – 1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, dan Kurt Lewin (1892 – 1947) yang mengembangkan suatu teori belajar (cognitif field) dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Penelitian – penelitian mereka menumbuhkan psikologi Gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur, dan pemetaan dalam pengalaman.

Istilah ‘Gestalt’ sendiri merupakan istilah bahasa Jerman yang sukar dicari terjemahannya dalam bahasa-bahasa lain. Arti Gestalt bisa bermacam-macam sekali, yaitu ‘form’, ‘shape’ (dalam bahasa Inggris) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat, esensi, totalitas. Terjemahannya dalam bahasa Inggris pun bermacam-macam antara lain ‘shape psychology’, ‘configurationism’, ‘whole psychology’ dan sebagainya. Karena adanya kesimpangsiuran dalam penerjemahannya, akhirnya para sarjana di seluruh dunia sepakat untuk menggunakan istilah ‘Gestalt’ tanpa menerjemahkan kedalam bahasa lain.
Bagi para ahli pengikut Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Bila kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan, sebagai Gestalt; baru kemudian menuyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu seperti bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight” yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu kesatuan yang utuh. Guru memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung persoalan-persoalan, dimana anak harus berusaha menemukan hubungan antar bagian, memperoleh insight agar ia dapat memahamii keseluruhan situasi atau bahan ajaran tersebut. “insight” itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “aha” atau “oh, see now”. Menurut teori Gestalt ini pengamatan manusia pada awalnya bersifat global terhadap objek-objek yang dilihat, karena itu belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian berproses kepada bagian-bagian. Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga.
Hukum pengamatan menurut teori Gestalt meliputi :
1. Hukum Keterdekatan, artinya yang terdekat merupakan Gestalt.
2. Hukum Ketertutupan, artinya yang tertutup merupakan Gestalt.
3. Hukum Kesamaan, artinya yang sama merupakan Gestalt.
Suatu hukum yang terkenal dari teori Gestalt yaitu hukum Pragnanz, yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, simetri, dan harmonis. Untuk menemukan Pragnanz diperlukan adanya pemahaman atau insight, menurut Ernest hilgard ada enam ciri dari belajar pemahamn ini yaitu :
1. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar.
2. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu yang relevan.
3. Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi, sebab insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.
4. Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba, sebab insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus dicari.
5. Belajar dengan pemahaman dapat diulangi, jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
6. Suatu pemahaman dapat diaplikasikan atau dipergunakan bagi pemahaman situasi lain.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

Standar Kompetensi Kemandirian



STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN

            Sebagaimana kinerja guru yang ukuran keberhasilannya dipatok dengan standar kelulusan, maka kinerja konselor keberhasilannya diukur dengan tingkat ketercapaian standar kemandirian peserta didik. Standar kemandirian tersebut terdiri atas 11 aspek perkembangan. Setiap aspek terjabar kedalam tiga peringkat tujuan dan terakomodasi ke jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Konselor perlu mempelajari rujukan standar kemandirian tersebut.

Aspek perkembangan :
  1. Landasan hidup religius
  2. Landasan perilaku etis
  3. Kematangan emosi
  4. Kematangan intelektual
  5. Kesadaran tanggung jawab sosial
  6. Kesadaran gender
  7. Pengembangan pribadi
  8. Perilaku kewirauhaan (kemandirian perilaku ekonomis)
  9. Wawasan dan kesiapan karir
  10. Kematangan hubungan dengan teman sebaya
  11. Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga

tataran/internalisasi tujuan
  1. pengenalan
  2. akomodasi
  3. tindakan

setting/wilayah layanan
  1. SD/MI
  2. SLTP (SMP/MTs)
  3. SLTA (SMA/MA/SMK)
  4. Perguruan tinggi (PT)

1). Landasan Hidup Religius

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal bentuk-bentuk dan tata cara ibadah sehari-hari.
Mengenal arti dan tujuan ibadah
Mempelajari hal ihwal ibadah
Mengkaji lebih dalam tentang makna kehidupan beragama
2.
Akomodasi
Tertarik pada kegiatan ibadah sehari-hari.
Berminat mempelajari arti dan tujuan setiap bentuk ibadah
Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama
Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
3.
Tindakan
Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari.
Melakukan berbagai bentuk kegiatan ibadah  dengan kemauan sendiri
Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi
Ikhlas melakukan ajaran agama dalam kehidupan



2). Landasan Perilaku Etis

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal patokan baik-buruk atau benar-salah dalam berperilaku
Mengenal alasan perlunya mentaati aturan/norma berperilaku.
Mengenal keragaman sumber norma yang berlaku di masyarakat.
Menelaah lebih luas tentang nilai-nilai universal dalam kehidupan manusia.
2.
Akomodasi
Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami keragaman aturan/patokan dalam berperilaku alam konteks budaya.
Menghargai keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan.
Menghargai keyakinan nilai-nilai sendiri dalam keragaman nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
3.
Tindakan
Mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam lingkungannya.
Bertindak atas pertimbangan diri terhadap norma yang berlaku.
Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis.
Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko dari keputusan yang diambil.

3). Kematangan Emosi

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal perasaan diri sendiri dan orang lain.
Mengenal cara-cara mengekspresikan perasaan secara wajar.
Mempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lain.
Mengkaji secara objektif perasaan-perasaan diri dan orang lain.
2.
Akomodasi
Memahami perasaan-perasaan diri dan orang lain.
Memahami keragaman ekspresi perasaan diri dan orang lain.
Bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain.
Menyadari atau mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan konsekuensi atas ekspresi perasaan.
3.
Tindakan
Mengekspresikan perasaan secara wajar.
Mengekspresikan perasaan atas dasar pertimbangan kontekstual.
Mengekpresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas, terbuka dan tidak menimbulkan konflik.
Mengekpresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas, terbuka dan tidak menimbulkan konflik dan mampu berpikir positif terhadap kondisi ketidakpuasan.



4). Kematangan Intelektual

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar.
Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara objektif.
Mengembangkan cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah berdasarkan informasi/data yang akurat.
2.
Akomodasi
Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar.
Menyadari adanya resiko dari pengambilan keputusan
Menyadari akan keragaman alternatif keputusan dan konsekuensi yang dihadapinya.
Menyadari pentingnya menguji berbagai alternatif keputusan pemecahan masalah secara objektif.
3.
Tindakan
Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar.
Mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan resiko yang mungkin terjadi.
Mengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara objektif.
Mengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara objektif serta bermakna bagi dirinya dan orang lain.

5). Kesadaran tanggung Jawab Sosial

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal hak dan kewajiban diri sendiri dalam lingkungan kehidupan sehari-hari.
Mempelajari cara-cara memperoleh hak dan memenuhi kewajiban dalam lingkungan kehidupan sehari-hari.
Mempelajari keragaman interaksi sosial.
Mengembangkan pola-pola perilaku sosial berdasarkan prinsip kesamaan (equality).
2.
Akomodasi
Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari.
Menghargai nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.
Menyadari nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam konteks keragaman interaksi sosial.
Menghayati nilai-nilai kesamaan (equality) sebagai dasar berinteraksi dalam kehidupan masyarakat luas.
3.
Tindakan
Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan.
Berinteraksi dengan orang lain atas dasar nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan hidup.
Berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesamaan (equality).
Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam berinteraksi dengan orang lain.
6). Kesadarn Gender

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal diri sebagai laki-laki atau perempuan.
Mengenal peran-peran sosial sebagai laki-laki atau perempuan.
Mempelajari perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupan.
Merperkaya perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupan.
2.
Akomodasi
Menerima atau menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan.
Menghargai peranan diri dan orang lain sebagai laki-laki atau perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Menghargai keragaman peran laki-laki atau perempuan sebagai aset kolaborasi dan keharmonisan hidup.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial.
3.
Tindakan
Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan.
Berinteraksi dengan lain jenis secara kolaboratif dalam memerankan peran jenis.
Berkolaborasi secara harmonis dengan lain jenis dalam keragaman peran.
Memelihara aktualisasi nilai-nilai kodrati gender dalam kehidupan sosial.

7). Pengembangan Pribadi

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal keberadaan diri dalam lingkungan dekatnya.
Mengenal kemampuan dan keinginan diri.
Mempelajari keunikan diri dalam konteks kehidupan sosial.
Mempelajari berbagai peluang pengembangan diri.
2.
Akomodasi
Menerima keadaan diri sebagai bagian dari lingkungan.
Menerima keadaan diri secara positif.
Menerima keunikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Meyakini keunikan diri sebagai aset yang harus dikembangkan secara harmonis dalam kehidupan.
3.
Tindakan
Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya.
Menampilkam perilaku yang merefleksikan keragaman diri dalam lingkungannya.
Menampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman.
Mengembangkan aset diri secara harmonis dalam kehidupan.


8). Perilaku Kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis)

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal perilaku hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dekatnya.
Mengenal nilai-nilai perilaku hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetitif dalam kehidupan sehari-hari.
Mempelajari strategi dan peluang untuk berperilaku hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetitif dalam keragaman kehidupan.
Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan.
2.
Akomodasi
Memahami perilaku hemat, ulet, sungguh-sungguh dan kompetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dekatnya.
Menyadari manfaat perilaku hemat, ulet , sungguh-sungguh, dan kompetitif dalam kehidupan sehari-hari.
Menerima nilai-nilai hidup hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetettif sebagai aset untuk mencapai hidup mandiri.
Meyakini nilai-nilai hidup hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetitif sebagai aset untuk mencapai hidup mandiri dalam keragaman dan saling ketergantungan.
3.
Tindakan
Menampilkan perilaku hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya
Membiasakan diri hidup hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetitif dalam kehidupan sehari-hari.
Menampilkan hidup hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri.
Memelihara perilaku kemandirian dalam keragaman dan saling ketergantungan kehidupan.

9). Wawasan dan Kesiapan Karir

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan .
Mengekspresikan ragam pekerjaan, pendidikan dan aktivitas dalam kaitan dengan kemampuan diri.
Mempelajari kemampuan diri, peluang dan ragam pekerjaan, pendidikan dan aktifitas yang terfokus pada pengembangan alternatif karir yang lebih terarah.
Memperkaya informasi yang terkait dengan perencanaan dan pilihan karir.
2.
Akomodasi
Menghargai ragam pekerjaan dan aktivitas orang sebagai hal yang saling bergantung.
Menyadari keragaman nilai dan persyaratan dan aktivitas yang menuntut pemenuhan kemampuan tertentu.
Internalisasi nilai-nilai yang melandasi pertimbangan pemilihan alternatif karir.
Meyakini nilai-nilai yang terkandung dalam pilihan karir sebagai landasan pengembangan karir.
3.
Tindakan
Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan.
Mengidentifikasi ragam alternatif pekerjaan, pendidikan dan aktivitas yang mengandung relevansi dengan kemampuan diri.
Mengembangkan alternatif perencanaan karir dengan mempertimbangkan kemampuan, peluang dan ragam karir .
Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai dan kompetensi yang mendukung pilihan karir.

10). Kematangan Hubungan dengan Teman Sebaya

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
Mengenal norma-norma dalam berinteraksi dengan teman sebaya.
Mempelajari norma-norma pergaulan dengan teman sebaya yang beragam latar belakangnya.
Mempelajari cara-cara membina kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebaya.
Mengembangkan strategi pergaulan yang lebih intensif sebagai upaya untuk menjalin persahabatan yang harmonis.
2.
Akomodasi
Menghargai norma-norma yang dijunjung tinggi dalam menjalin persahabatan dengan teman sebaya.
Menyadari keragaman latar belakang teman sebaya yang mendasari pergaulan.
Menghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebaya.
Meyakini nilai-nilai yang terkandung dalam persahabatan dengan teman sebaya.
3.
Tindakan
Menjalin persahabatan dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama.
Bekerjasama dengan teman sebaya yang beragam latar belakangnya.
Mempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma yang berlaku.
Mengembangkan dan memelihara nilai-nilai pergaulan dengan teman sebaya yang lebih luas secara bertanggung jawab.


11). Kesiapan Karir untuk Menikah dan Berkeluarga

NO
TATARAN/
INTERNALISASI TUJUAN
SD
SLTP
SLTA
PT
1.
Pengenalan
---
---
Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga.
Mengkaji secara mendalam tentang norma pernikahan dan kehidupan berkeluarga.
2.
Akomodasi
---
---
Menghargai norma-norma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis.
Meyakini nilai-nilai yang terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yang bermartabat.
3.
Tindakan
---
---
Mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga.
Memiliki kesiapan untuk menikah atau berkeluarga dengan penuh tanggung jawab.